About

Rabu, 15 Januari 2014

Cerita Dari Mantan GAM Tentang TNI

RASA bosan adalah salah satu beban dalam peperangan. Saya juga merasakannya. Rekor saya tinggal di pos hanya tiga hari. Memasuki hari keempat, saya mulai mencari informasi kapan ada lanjutan ke kota atau ke pos lain.

Orang-orang pos punya berbagai macam cara untuk mengatasi kebosanan. Mereka punya dunia sendiri. Bangun pagi, seisi pos sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Yang memelihara burung akan memandikan piaraannya. Makhluk-makhluk itu disuapi makanan, diajari bicara, diajak berjemur menikmati matahari pagi, diperbaiki sangkarnya. Kadang mereka menyetelkan lagu buat piarannya itu. "Biar suaranya bagus," kata seorang serdadu.

Banyak tentara dari Jawa suka memelihara burung. Saya pernah mendapati pos dengan 40 buah sangkar burung, dua kali lipat dari jumlah penghuni pos. Kicauan burung-burung terdengar hampir setiap saat. Suaranya bahkan lebih nyaring ketimbang kicauan teman-temannya di hutan belakang pos.

Burung memang mudah didapatkan di Aceh Barat. Biasanya, warga yang datang berobat (gratis) ke pos menyerahkan burung atau makanan burung. Ada banyak jenis burung. Murai batu yang paling sering saya lihat di samping perkutut, beo, dan tekukur.

Membuat sangkar burung jadi kesibukan tersendiri. Rangkanya dari kayu, jerujinya dari bambu. Orang pos membuatnya bermodalkan sangkur dan besi panas untuk melubangi rangka. Ukurannya bervariasi. Yang paling besar yang pernah saya lihat seukuran tempat tidur anak lima tahun. Dipernis dan dicuci tiap hari. Mereka kadang menamai burung piaraannya dengan nama orang-orang GAM yang jadi target operasi di Aceh Barat, seperti "Juragan" dan "Cut Man."

Biasanya, setelah merawat binatang piaraan, orang pos merawat diri. Di setiap pos, selalu ada peralatan fitness seperti barbel, erekan, dan samsak. Mereka tak ingin pulang tugas dengan perut buncit.

Sudah itu mandi. Tentara umumnya mandi telanjang bareng-bareng. Yang tidak suka, biasanya mandi pakai celana kolor atau pas sumur sepi. Mandi dan sekalian mencuci pakaian. Baju dan celana loreng biasanya dicuci dua kali seminggu. Kalau lebih dari itu, di baju ada garis-garis putih yang kalau banyak seperti peta saja. Awalnya saya kira peta itu terbentuk karena mereka tak bersih saat membilas. Kemudian seorang serdadu bercerita kalau peta itu karena air keringat (bergaram) yang menempel di baju. Pakaian yang kering habis dijemur biasanya langsung dilipat.

Kegiatan bersama orang pos sudah direncanakan sejak malam sebelumnya. Komandan peleton atau bintara sudah menunjuk siapa giliran patroli dan jaga pos. Porsinya setengah-setengah. Sepuluh orang patroli, sisanya jaga pos plus memasak.

Mereka bergiliran masak. Sejak lepas subuh, mereka mandi asap kayu bakar di dapur. Pagi sarapan dengan telur dadar dan nasi panas. Baru siangnya ada sayur dan ikan. Kalau ada kelapa, mereka bikin sayur santan. Ikannya rata-rata digoreng. Nanti kalau banyak bawang merah dan cabai besar, ikan goreng itu diberi bumbu. Soal rasa bergantung pada siapa yang memasak. Terkadang terlalu asin dan seringkali anyep karena kurang bumbu.

Ada satu menu yang tak pernah hilang di pos: sambel. Kalau ada terasi, pakai terasi. Kalau tidak, ya cabai, tomat, bawang, garam dan sedikit vietsin diulek. Tentara Jawa biasanya bawa ulekan akar pring dari Jawa sana. Mereka tak nyaman memakai ulekan Aceh yang besarnya seperti lesung penumbuk padi.

Masih soal menu, saya pernah terperanjat menyaksikan mewahnya daftar menu pos Rajawali di Kabong. Menu ditulis jelas-jelas di papan dapur. Pagi: Nasi Putih, Telur, Teh Manis, Krupuk. Siang: Ayam Goreng, Sop, Empal, Lodeh, Sayur (asam/bening), Ikan Asin, Sambal, Lalap. Sore: Sarden, Cornet, Ikan Bakar, Opor Ayam, Gudeg, Soto, Telur. Makanan tambahan: Susu, Jeruk, Mi (rebus/goreng), Telor setengah matang, Kelapa muda. Ternyata ini hanya fantasi orang dapur saja. Realitasnya ya sama dengan pos lain.

Jadwal makan orang pos teratur, pagi biasanya antara pukul tujuh dan pukul delapan, siang sebelum masuk duhur, dan makan malamnya menjelang magrib. Mereka biasanya makan dengan serba plastik: piring plastik, sendok plastik, dan gelas plastik. Semua peralatan makan itu, termasuk peralatan masak, dibeli dengan uang sendiri.

Setiap bulannya, mereka dapat pembagian beras dan beberapa kaleng konserven (makanan kaleng). Praktis orang pos tinggal mencari lauknya. Rata-rata per orang menyetor Rp 1.000 setiap makan. Mereka kadang minta ikan kepada nelayan atau penjual yang lewat depan pos.

Semua mengambil makanan di dapur kecuali komandan pos. Bos satu ini memang spesial. Dia yang paling duluan dapat jatah makanan, porsinya lebih banyak, dan diantar ke kamarnya. Kalau saya datang, orang dapur punya dua bos. Seringkali apa-apa wartawan duluan. Saya pernah mendengar seorang serdadu menegur temannya karena mengambil makan terlalu banyak. "Nanti wartawan tidak dapat."

Suatu saat, saya iseng bertanya kepada orang dapur, "Kok kita nggak pernah makan daging?"

"Bagaimana kalau saya tembakkan Bandung Ambon Bandung Irian?"

Saya menolak karena tak makan babi.

"Kalau (saya tembakkan) burung rangkong mau?"

"Kelelawar?"

Saya tetap menggeleng dan iseng-iseng bertanya, "Orang pos bagaimana bisa marah kalau tidak makan daging?"

"Bang, tentara itu biar tidak makan daging sudah sangar."

Patroli adalah saat orang pos bergaul dekat dengan warga desa. Satu hingga enam bulan pertama mereka masih menikmatinya. Tapi kalau sudah lewat enam bulan, istilah tentara sudah masuk yang namanya "masa bodoh." Di kepala prajurit yang terpikir cuma kapan pulang. Mereka biasanya kembali hapal hari dan tanggal berapa sekarang. Satu sampai enam bulan pertama boro-boro.

Saat patroli mereka akan bertegur sapa dengan setiap orang desa. Kadang mereka singgah sekadar untuk tahu berapa jumlah penghuni rumah dan siapa-siapa saja orangnya.

Setiap pekan, orang pos sudah punya jadwal desa mana yang harus mendapatkan apel. Mereka memilih hari Jumat karena orang kampung di Aceh tak pergi ke ladang hingga usai jumatan.

Saya pernah mengikuti apel di desa Mugah Rayeuk. Jangan bayangkan apel yang kaku. Ini tanpa baris-berbaris, terkesan santai saja. Warga desa, tua muda laki perempuan, berkumpul di tempat yang teduh dan komandan pos berdiri di depan.

Acara pertama absensi. Orang-orang desa diabsen. Kalau seisi rumah tak bisa datang, mesti ada yang mewakili. Mereka utamanya yang pernah terlibat GAM. Orang pos punya catatannya. Mereka mendapatkan catatan itu dari pasukan yang bertugas sebelumnya. Mereka yang ada namanya di daftar itu harus melakukan registrasi ulang setiap pasukan di pos berganti. Pemutihan, istilahnya.

Selepasnya, ada pengarahan dari komandan pos. Isinya macam-macam. Tapi intinya ini: "Jaaaaaaaaaaaaangan sekali-sekali ikut GAM. Tidur di hutan itu tidak enak. Saya di pos sana nyamuknya saja sudah minta ampun. Anak ditinggalin, istri ditinggalin. Kalau ikut ke sana akibatnya rugi semuanya. Nggak usah gaya-gayaan bawa senjata, bapak-bapak. Tidak ada gunanya! Mendingan kita ambil cangkul, pergi ke ladang, ada hasil bisa dimakan sama-sama dengan keluarga."

Kalau ada apel, mungkin keuchik (kepala desa) yang paling terbebani pikirannya. Dia harus punya jawaban kalau orang pos bertanya kenapa si A atau si B tak ikut apel. Dia juga kadang jadi sasaran awal kekesalan tentara terhadap apa yang terjadi di desa.

Pernah suatu hari saya bertanya kepada orang pos apa yang akan dilakukannya kalau pos diserang. "Gampang," katanya, "Cukup panggil keuchik dan suruh orang desa apel dan guling di jalan sampai aspal di depan pos ini rata."

Keuchik juga kadang jadi sasaran kekesalan orang GAM. Sudah banyak keuchik yang mati karena berselisih dengan orang GAM. Biasanya soal pajak. Pajak Nanggroe, istilahnya. Saya tak pernah melihat langsung orang GAM memungut pajak, tapi saya punya contoh kwitansinya. Isinya memuat keterangan nama barang yang diserahkan dan berapa jumlahnya dalam bahasa Aceh. Di pojok bawah kwitansi tertera keterangan "aseuli meuwarna, fotocopy hana sah" (asli berwarna, fotokopi tidak sah).

Sepulang patroli, orang pos beristirahat. Selepas asar, mereka berolahraga. Ada yang turun main voli (enam yang main, empat mengamankan) dengan warga desa. Ada juga yang kembali menekuni alat-alat fitness.

Kalau capek gerak badan seharian, begitu habis isya orang pos langsung tidur. Jangan bayangkan ada kasur dan ranjang di pos. Mereka tidur beralaskan matras dan berjejer di sebuah ruang panjang seperti bangsal rumah sakit. Biasanya, dari rumah mereka sudah membawa bantal, yang kadang ada sulaman nama istri dan anak-anaknya.

Yang belum ngantuk biasanya nonton VCD. Orang pos punya banyak koleksi VCD dari film Mickey Mouse, Tom and Jerry, hingga film India Kuch-Kuch Hota Hai. Tapi yang sering diputar VCD Dangdut Koplo (itu lho, dangdut yang penyanyinya berpakaian superketat dan melenggok-lenggok menirukan adegan di film porno). Kadang, kalau punya persediaan, mereka nonton VCD porno yang mudah dicari di rental VCD di kota terdekat.

Tidurnya serdadu di pos selalu disela jadwal jaga serambi. Biasanya mereka berjaga selang sejam. Ini berlaku buat semua penghuni pos. Saat jaga, semua lampu dipadamkan. Di pos jaga selalu ada senapan otomatis.

Kalau pas malam Jumat, di pos biasanya ada yasinan. Tahlilan kalau orang pos mendengar ada tentara Indonesia mati di Aceh. Dan kalau malam Minggu, orang pos biasanya gitar-gitaran. Banyak yang pintar menyanyi. Dangdut biasanya. Instrumen musik yang digunakan lumayan lengkap. Ada gitar melodi, drum, bass, suling, dan lain-lain. Tapi .... semuanya dengan mulut.

Minggu siang waktunya pelesiran. Pelesiran tentara di Aceh tetap saja dengan senjata sudah dikokang. Tujuan mereka biasanya ke kota kecamatan atau ibukota kabupaten. Tempat yang pertama kali mereka datangi biasanya warung telekomunikasi. Di situ mereka melepas rindu dengan orang di rumah.

Saban minggunya, ada ratusan tentara yang turun gunung untuk menelepon. Mereka yang seringkali bayar mahal adalah serdadu yang sudah berkeluarga. Makin banyak anak makin besar yang mereka bayar. Kadang sampai Rp 90 ribu sekali telepon.

Selain telepon, banyak serdadu yang memilih berkomunikasi lewat surat. Saya pernah melihat seorang serdadu yang sekali duduk menulis sampai 10 surat. Dia masih bujangan.

"Banyak fans," katanya.

Senin, 13 Januari 2014

Pembawa Pesan Dari Tanah Rencong


       Jakarta sibuk menentukan nasib Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam pekan-pekan terakhir. Pernyataan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) awal bulan ini yang menolak hadir dalam pertemuan joint council, membuat Jakarta panas hati. Pimpinan militer pun bersiap menggelar operasi militer besar-besaran di propinsi paling ujung barat Indonesia ini. Namun keputusan penting itu sangat tergantung laporan kondisi mutakhir di Aceh dari Mayor Jenderal Muhammad Djali Yusuf, Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darussalam.
Entah apa yang dilaporkan Jenderal Djali Yusuf dalam rapat tertutup bersama Menteri Koordinasi Polkam, Selasa (15/4) lalu. Pastinya laporan itu akan menentukan nasib ribuan nyawa di Aceh. Sebab jika TNI menggelar operasi militer, kontak senjata dengan GAM sulit dihindari. Korban sipil, TNI, dan GAM bakal berjatuhan. Tentu situasi itu tidak diharapkan pria kelahiran Sigli, Aceh ini.
Jenderal penggemar golf yang selalu tampil penuh senyum ini mencatat sejumlah keberhasilan selama bertugas di Aceh. Dua tahun lalu, Djali mulai bertugas di Aceh sebagai Wakil Panglima Komando Pelaksana Operasi (Pangkolakops). Tujuh bulan kemudian tanggung jawabnya bertambah setelah diangkat sebagai Pangkolakops. Jabatan ini hanya diemban selama tiga bulan. Suami Neirawati ini kemudian menerima tugas baru sebagai Pangdam Iskandar Muda pertama, setelah Kodam ini dibekukan selama 17 tahun.
Sepanjang tugasnya di Aceh, perubahan besar terjadi. Pembicaraan yang mengarah pada perdamaian mulai dijalin antara Jakarta dan GAM. Awal tahun lalu, dalam sebuah kontak senjata, TNI menewaskan Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafi'ie di Pidie. Kemudian November lalu, pasukan TNI dan Brimob mengepung persembunyian GAM. Pengepungan berakhir tanpa korban yang berarti di kedua pihak setelah terjadi kesepakatan perdamaian yang ditandatangani di Jenewa, Swiss.
Namun dibalik keberhasilan itu Komisi Nasional untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat sepanjang 2001, terdapat lebih dari 2.000 warga sipil tewas sebagai korban kekerasan di Aceh. Angka ini dua kali lipat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Belum lagi tewasnya beberapa pejabat daerah dan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dayan Dawood. Jika Djali tetap dipertahankan di posisinya, tentu Jakarta punya pertimbangan lain. Salah satunya karena Djali sangat mengenal karakter orang Aceh. Sebab dia menghabiskan masa kecilnya di Aceh. Masa remaja putra pasangan Yusuf Seuman dan Saidah ini dikenal gemar berantem. Dalam sebuah perkelahian antar geng, dia menusuk seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Hadiahnya, remaja Djali harus mendekam 15 hari di sel polisi. Beruntung korbannya tidak meninggal dan masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Lulus SMA, Djali yang temperamental sempat gagal masuk Akademi Militer. Namun tahun berikutnya dia berhasil menembus seleksi.
Pengalamannya di wilayah konflik tidak diragukan lagi. Djali berhasil menyelesaikan tugasnya dalam operasi militer di Timor-Timur pada 1978, 1983, dan 1989. Usai di Timtim, dia dipercaya menjadi Kepala Seksi Operasi Korem 011/LLW Lhokseumawe, Aceh. Setelah dua tahun di Aceh, Djali menjalani tugas di berbagai daerah selama sepuluh tahun. Hari paling bersejarah dalam hidupnya terjadi Pada 5 Februari 2002. Bang Djali - begitu dia biasa dipanggil orang Aceh- menerima tugas sebagai Pangdam di propinsi kelahirannya, Aceh.
Perjalanan hidup ayah empat orang anak ini akan terus mewarnai sejarah Tanah Rencong. Usai bertemu Menko Polkam, Selasa lalu, Djali menyebut kebutuhannya menambah personil TNI di wilayahnya. Jika operasi militer jadi dilaksanakan, maka Markas Besar TNI harus melipat gandakan jumlah pasukannya dari sekitar 26.000 orang saat ini. Namun semua itu tergantung laporan Jenderal Djali Yusuf ke Jakarta.
(A Rulianto - Tempo News Room)

Kisah Jenderal Sarwo Edhie Wibowo dan RPKAD 1965-1966


MENJELANG kedatangan pasukan RPKAD –yang kekuatannya hanya dalam hitungan kompi– di beberapa kota Jawa Tengah, sejumlah tokoh CC PKI yang sudah berada di propinsi itu mengorganisir massa bersenjata. Penuh percaya diri PKI memasang spanduk di beberapa kota, di Solo misalnya, yang berbunyi “Jadikan Solo kuburan bagi RPKAD”. PKI memang memiliki keyakinan bahwa Jawa Tengah, dengan dukungan satuan-satuan Diponegoro yang ada di bawah pengaruhnya, akan bisa dipertahankan.
RPKAD DALAM PROFIL BARU SEBAGAI KOPASSUS. “Sepanjang yang bisa dicatat, peranan RPKAD di Jawa Timur tidak menonjol. Kesatuan ini muncul di Jawa Timur untuk ikut dalam Operasi Trisula, saat di wilayah tersebut terjadi gerakan-gerakan bersenjata PKI yang berskala lebih besar, terutama di wilayah Blitar Selatan (1966-1968). Di Jawa Tengah pun, meminjam paparan Ken Conboy mengenai peranan RPKAD di Jawa Tengah 1965-1966, peran itu lebih banyak sebagai katalis”. (download flickr)
            Sejumlah tanda tanya mengenai Divisi Brawijaya. SITUASI penuh tanda tanya tentang ‘kebersihan’ Kodam Brawijaya di Jawa Timur, tahun 1965, sementara itu, tidak berbeda jauh dengan Kodam Diponegoro. Mayor Jenderal Basoeki Rachmat yang memimpin divisi Brawijaya kala itu, termasuk satu di antara sejumlah jenderal yang dianggap sebagai de beste zonen van Soekarno, bersama antara lain Jenderal Muhammad Jusuf, Mayor Jenderal Ibrahim Adjie dan Mayor Jenderal Amirmahmud. Namun, meski dekat dengan Soekarno yang banyak memberi angin kepada PKI, Basoeki Rachmat tetap dikategorikan sebagai seorang jenderal anti komunis. Presiden Soekarno menganggap sikap anti komunis itu adalah akibat pengaruh Jenderal Nasution. Itu sebabnya, Soekarno merasa kurang gembira setiap kali mengetahui Basoeki Rachmat ‘terlalu’ banyak bertemu dengan AH Nasution. Bila Jenderal AH Nasution berkunjung ke Jawa Timur, selaku Menko/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, tentu saja sebagai Panglima Daerah Jenderal Basoeki Rachmat harus mendampingi.
Akan tetapi, meskipun anti komunis, sebagai Panglima Brawijaya Mayor Jenderal Basoeki Rachmat kurang berhasil membendung pengaruh PKI di kalangan perwira-perwira bawahannya. Walau tak pernah dipetakan dengan baik, diketahui setidaknya lebih dari separuh komandan-komandan batalion di Divisi Brawijaya berada dalam pengaruh PKI. Salah satu di antaranya, yakni Batalion 530, tercatat sebagai pasukan yang datang ke Jakarta dan terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.
Karena meyakini kuatnya pengaruh mereka di Divisi Brawijaya, anggota-anggota PKI di Jawa Timur pada 1 Oktober 1965, berani bersikap agresif mendukung Dewan Revolusi Letnan Kolonel Untung. Masih pada 1 Oktober siang, tokoh-tokoh PKI Jawa Timur dengan dukungan beberapa satuan Brawijaya, sudah mengumumkan Dewan Revolusi daerah Jawa Timur. Pembentukan Dewan Revolusi Jawa Timur diumumkan melalui RRI Surabaya yang yang berhasil diduduki pasukan-pasukan pendukung. Sampai 3 Oktober 1965, para pimpinan PKI Jawa Timur tetap berada di Surabaya, bertahan di kantor CDB PKI Jawa Timur. Dari kantor ini, pimpinan PKI Jawa Timur, terutama melalui Ketua Biro Chususnya, Rustomo, menyebarkan instruksi-instruksi ke seluruh jajaran PKI di provinsi itu untuk memulai gerakan bersenjata. Selama masa itulah kelompok-kelompok massa PKI melakukan serangan-serangan kepada organisasi-organisasi non-PKI di Jawa Timur. Mirip dengan apa yang mulanya dilakukan PKI di Jawa Tengah pada awal hingga pertengahan Oktober. Hanya saja, setelah mendengar berita dipatahkannya Gerakan 30 September 1965, para pimpinan PKI Jawa Timur mulai meninggalkan Surabaya, dan mengatur gerakan di luar kota.
Seakan mendapat angin, mendengar berita dari Jakarta tentang kegagalan ‘Gerakan 30 September’, organisasi-organisasi non-PKI Jawa Timur, terutama organisasi-organisasi di bawah NU berbalik melakukan pembalasan. Gelombang pembalasan yang berlangsung, harus diakui, tak kalah kejinya. Selain keji, seperti halnya yang terjadi di Jawa Tengah, tak mudah untuk memetakan siapa-siapa saja korban pembasmian. Apakah hanya anggota PKI, dan dari sayap mana, ataukah juga yang berasal dari masyarakat bukan pengikut PKI. Beberapa satuan di lingkungan Divisi Brawijaya yang tadinya diketahui berada di bawah pengaruh PKI, ikut melakukan pembasmian dan atau mendorong pembasmian oleh Banser, Pemuda Marhaenis dan organisasi-organisasi onderbouw partai-partai Islam. Selain adanya dorongan dari aparat teritorial militer, berperan pula faktor kebencian yang selama ini diciptakan PKI sendiri melalui cara-cara kekerasan. Ibarat memasukkan bara dalam sekam, tinggal menunggu angin untuk berkobar.
Dalam situasi kalut di wilayah waktu abu-abu setelah pecahnya Peristiwa 30 September 1965 di Jakarta, seseorang dengan mudah diambil dari rumahnya, cukup bila ada yang main tunjuk. Cenderung tak sempat lagi dilakukan penelitian yang cermat dalam menentukan sasaran. Ada pula ‘penjemputan’ untuk eksekusi berdasar daftar yang diberikan oleh perwira militer dari kesatuan yang tadinya diketahui pendukung PKI. Bahkan terjadi pula, anggota PKI menunjuk anggota PKI lainnya, demi menyelamatkan diri. Menarik, bahwa ada juga sejumlah pengikut NU justru ikut ditunjuk dan digiring ke tempat eksekusi. Dendam-dendam pribadi juga mendapat kesempatan untuk dilampiaskan di masa kalut sampai akhir 1965 dan bulan-bulan pertama 1966.
Secara ‘resmi’ tak ada pengiriman satuan-satuan RPKAD ke Jawa Timur. Tetapi ada beberapa perwira muda, seperti misalnya Faisal Tandjung, yang diperbantukan ke Jawa Timur. Namun di Jawa Timur, mereka tidak mengenakan seragam RPKAD melainkan seragam satuan-satuan Brawijaya. Ini ada kaitannya dengan ketegangan antara RPKAD kala itu dengan satuan-satuan Korps Komando (KKO) AL. Satuan elite ini memang dominan di Jawa Timur. Banyak kelompok anggota KKO turun ke desa-desa Jawa Timur, bahkan sampai Jawa Tengah, untuk melakukan pembalasan atas kematian keluarga mereka yang ikut menjadi korban pembantaian. Anggota KKO ini menganggap satuan-satuan RPKAD berada di belakang gerakan massa yang melakukan pembantaian.
Sepanjang yang bisa dicatat, peranan RPKAD di Jawa Timur sebenarnya tidak menonjol. Kesatuan ini muncul di Jawa Timur untuk ikut dalam Operasi Trisula, saat di wilayah tersebut terjadi gerakan-gerakan bersenjata PKI yang berskala lebih besar, terutama di wilayah Blitar Selatan (1966-1968). Di Jawa Tengah pun, meminjam paparan Ken Conboy mengenai peranan RPKAD di Jawa Tengah 1965-1966, peran itu lebih banyak sebagai katalis. RPKAD di bawah Sarwo Edhie Wibowo, memandang gerakan-gerakan bersenjata PKI bersama satuan-satuan militer pendukungnya adalah bagian dari suatu pemberontakan. Kedatangan RPKAD pada bagian awal diisi dengan upaya-upaya membangkitkan perlawanan rakyat yang tadinya merasa tak berdaya dalam cengkeraman ketakutan. Tak ada catatan kuat yang menunjukkan bahwa RPKAD secara teknis telah melakukan pembantaian. Pemaparan tentang adanya pembantaian oleh RPKAD, lebih banyak muncul sebagai kesimpulan berdasarkan kesan dari para penyampai narasi. Dan berlalunya waktu yang demikian panjang, telah menyebabkan berbagai distorsi tentang kebenaran, akibat berbagai kepentingan yang berbeda-beda. Itu sebabnya penting anjuran untuk menggali kebenaran sepenuhnya dengan keadilan sebanyak-banyaknya. Tidak boleh pilih-pilih tebu: Di masa Soeharto narasi peristiwa terlalu ke kanan, sementara di masa sesudahnya narasi peristiwa terlalu ke kiri. Dua-duanya sama buruknya. Bila kebenaran tak berhasil tergali sepenuhnya, maka keadilan juga takkan pernah terpenuhi sedekat-dekatnya.
Padang alang-alang di musim kemarau. Ketakutan rakyat di bagian akhir 1965 itu merupakan bagian yang tak terlepaskan dari cekaman ketakutan traumatis yang sudah mereka alami jauh sebelumnya. Suatu keadaan yang bermula sejak PKI dan organisasi-organisasi mantelnya intensif melakukan aksi-aksi sepihak, 1960-1965, mulai dari kampanye mengganggu kehidupan beragama masyarakat sampai kepada perampasan tanah-tanah milik orang lain. Situasi ini –sekali lagi dengan menggunakan sebuah metafora– adalah bagaikan padang alang-alang di musim kemarau, yang hanya membutuhkan sedikit percikan api, bisa segera menjelma sebagai padang kobaran api. Saat angin bertiup lebih kencang, kobaran api tak terkendalikan lagi membakar segala yang ada. Pohon jambu dan pohon mangga yang ada di tengah padang alang-alang itu, pun ikut terbakar.
Pola reaksi masyarakat yang menumpuk dendam berkepanjangan akibat kekerasan dan ketidakadilan, tak mudah diperkirakan seberapa besar skalanya. Tapi tak mungkin takkan meledak pada suatu waktu bila kesempatannya tiba. Sejarah telah mengajarkan hal itu. Pembalasan dalam konteks dendam sosial, tak sekedar mengikuti ‘mata dibayar mata’ dalam pola deret tambah, tetapi bisa lebih ekstrim dalam bentuk deret kali. Itu yang kita lihat telah terjadi setelah Peristiwa 30 September, pembalasan terhadap kekerasan PKI di masa sebelumnya telah diganjar dengan pembalasan dalam skala deret kali. Tetapi, sebaliknya, jangan kita lupakan, bahwa di sisi korban pada masa pembalasan itu –baik yang adalah anggota PKI maupun yang adalah korban akibat salah tunjuk– telah terakumulasi pula dendam baru sebagai dendam jilid dua. Dan dendam jilid dua itu belum terkanalisir dari periode pemerintahan yang satu ke periode pemerintahan yang lain selama puluhan tahun hingga kini. Dendam jilid dua ini takkan bisa diselesaikan dengan sekedar pernyataan maaf oleh pemerintah. Tetapi lebih dahulu harus dilakukan penggalian kebenaran sepenuhnya mengenai peristiwa. Dan untuk itu sudah terlalu banyak waktu yang disia-siakan. Ketidakcermatan memberi judgement sebelum ada penyelidikan kebenaran sesungguhnya, hanya akan menghasilkan lagi dendam jilid tiga.
Dendam jilid satu meledak sebagai suatu malapetaka sosial, yang antara lain diakibatkan oleh kegagalan Presiden Soekarno dalam memberikan solusi –misalnya, dengan segera membubarkan PKI. Dendam jilid dua diberi jalan untuk tercipta oleh pilihan Jenderal Soeharto melakukan penanganan security approach yang terlalu militeristik, secara berkepanjangan. Pola stigmatisasi yang dijalankan Presiden Soeharto kemudian sebagai lanjutan penanganan terhadap bekas-bekas anggota PKI dan organisasi-organisasi pendukungnya yang juga tak kalah berkepanjangan di luar esensi persoalan, lebih memperpanjang lagi daftar kesalahan kekuasaan. Padahal, pers dan kalangan cendekiawan serta berbagai gerakan kritis telah memperingatkan rezim agar tak terlalu jauh bergelimang kesalahan penanganan, dan terjerumus melakukan pelanggaran hak azasi manusia, sepanjang itu semua masih menyangkut sesama bangsa sendiri.

Minggu, 12 Januari 2014

Operasi Dwikora - Bentrok Dengan Serdadu Inggris

Ketika Dwikora berkobar. Pasukan Yonif Linud 328 kembali di terjunkan untuk mempertahankan wilayah perbatasan, menyusup dan sekaligus bertempur di wilayah Malaysia (Kalimantan Timur).

Setelah menjalani latihan dan perbekalan, personil Yonif Linud 328 dikirim menuju perbatasan melalui jalan darat maupun penerjunan dari udara. Operasi ini berlangsung tanggal 4 Oktober 1963 sampai 1 Januri 1964.

Operasi tempur untuk menembus perbatasan antara Kalimantan Selatan (RI) dan Kalimantan Utara (Malaysia) yang merupakan operasi yang sangat berat. Dalam Operasi ini bersifat menyusup, kemudian menyerang lalu mengundurkan diri. Resiko yang dihadapi sangat besar. Pasukan yang menyusup hanya berbekal peta yang terbatas, sehingga sulit dipastikan apakah sudah memasuki daerah lawan. Bila pasukan sudah bisa memastikan posisi musuh baru serangan dapat segera dilancarkan. Namun bila aksi penyusupan pasukan RI telah diketahui musuh, maka yang terjadi penyergapan. Menyerang dahulu atau memilih mundur karena sergapan musuh merupakan taktik standar yang diterapkan dalam pertempuran melawan pasukan Malaysia di perbatasan.

Pertempuran pertama ketika tim dari Yonif Linud 328 berhasil menyusup ke wilayah Kalimantan Utara dan menemukan pos komando Inggris di wilayah Munti. Dalam operasi serbuan dadakan pada malam hari, serdadu Inggris dan Gurkha yang tengah lengah di hujani tembakan terarah dari pasukan Yonif Linud 328 yang terdiri dari dua peleton. Serangan dadakan itu menimbulkan kerugian besar bagi serdadu Inggris dan menunjukan keunggulan pasukan Indonesia. Kemudian pasukan secara teratur mundur ke wilayah yang aman.

Selain berperan sebagai pasukan penyerang, pasukan Yonif Linud 328 pun sempat menjadi sasaran pasukan Malaysia. Dan biasanya serangan tersebut didukung serdadu Inggris yang melibatkan senjata berat dan pesawat tempur. Oleh karena itu pasukan Yonif Linud 328 memilih mundur sambil memberikan perlawanan teratur.

Pertempuran lain adalah ketika pasukan Linud 328 dan tentara Malaysia yang berlangsung di Kampung Pareh menimbulkan korban sebanyak 25 pasukan musuh tewas. Pasukan Linud 328 sebanyak 40 orang dan dipimpin oleh Serma M Darto, saat itu sedang bertugas mengurus logistik. Tiba-tiba anggota pasukan Yonif Linud 328 menemukan kampung yang mencurigakan dan diyakini sebagai basis musuh. kemudian di siapkan penyerangan ke kampung tersebut. Untuk menghadapi pasukan Malaysia, tim dipercayakan di pimpin oleh Serda F Akri. Setelah pertempuran sengit selama kurang lebih dua jam, pasukan Malaysia berhasil dihancurkan, lebih dari 25 orang tewas. Sedangkan dari pasukan Yonif Linud 328 sebanyak dua anggotanya gugur.

Pertempuran ini membuktikan perjuangan pasukan Yonif Linud 328 yang turut serta pada masa Dwikora dan membuahkan hasil yang menjadi sejarah tersendiri buat anggota maupun satuannya.

- sumber edisi koleksi Angkasa -

PEMBEBASAN SANDERA PEMBAJAKAN DC -9 GA 206/ WOYLA DI DON MUANG THAILAND


 
Telah lama bangsa ini miskin prestasi dan rindu pada kebanggaan. Selama era reformasi kita hanya disibukkan dengan kegiatan pembenahan kehidupan berbangsa, yang hasilnya kadang menciptakan ketidakstabilan terhadap kemapanan berbangsa.  Pembenahan yang diharapkan bisa menciptakan keberaturan justru malah sering menciptakan kondisi yang carut marut. Sebagai obat rasa rindu tersebut, marilah kita mengingat prestasi bangsa yang ditorehkan 32 tahun yang lalu oleh putra-putra terbaik bangsa.
Peristiwa Woyla.  Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Maret 1981, ketika pesawat Garuda DC9 dengan nomor penerbangan GA 206 dengan 48 penumpang tinggal landas dari bandara Talangbetutu Palembang menuju Polonia Medan, dibajak oleh 5 orang bersenjata yang menamakan diri sebagai anggota "Komando Jihad". Kapten pilot Herman Rante dipaksa untuk mengalihkan tujuan ke Kolombo Srilanka, namun karena bahan bakar tidak mencukupi akhirnya dialihkan mendarat di Penang Malaysia. Pesawat yang dijadwalkan tiba di Medan pukul 10.35 tersebut, baru diketahui dibajak pada pukul 10.18 saat Kapten Pilot Fokker 28 Garuda yang baru tinggal landas dari Pakan Baru menangkap komunikasi pilot GA 206 yang mengatakan bahwa pesawatnya sedang dibajak (being hijacked).  Berita tersebut langsung diteruskan ke Jakarta dan diterima oleh Wakil Panglima ABRI Sudomo, yang selanjutnya Sudomo meneruskan ke Kepala Pusat Intelijen Strategis Benny Murdani. Pada saat itu Benny Murdani langsung menghubungi Asrama Kopasandha (sekarang Kopasus) yang diterima oleh Asisten Operasi Kopasandha Letkol Sintong Panjaitan. Intinya Benny Murdani memerintahkan Asop Kopasandha untuk mempersiapkan pasukan. Pada saat itu data-data tentang pembajak belum diketahui sama sekali baik jumlah, persenjataan, tujuan, ataupun tuntutannya.
Selesai mengisi bahan bakar, pesawat GA 206 menuju ke Thailand dan mendarat di bandara Don Muang.  Berdasarkan komunikasi antara pembajak dan Kepala Bakin Jenderal Yoga Sugomo, bahwa pembajak yang menamakan diri sebagai Komando Jihad menuntut dibebaskannya tahanan Peristiwa Cicendo, komplotan Warman dan Komando Jihad. Disamping itu para pembajak juga meminta diterbangkan ke suatu tempat di luar Indonesia dan uang tebusan 1,5 juta dollar AS.  Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, mereka mengancam akan meledakkan pesawat Woyla dengan semua penumpangnya.      

Upaya Pembebasan Sandera. Upaya pembebasan sandera diawali dengan pembentukan pasukan Kopashanda berikut dengan sebuah pesawat DC 9 Garuda yang akan digunakan sebagai sarana latihan.  Dalam masa latihan tersebut terselib kejadian yang di luar skenario. Misalnya Letjen Benny Murdani menghendaki pasukan menggunakan amunisi baru, tapi ditolak oleh Sintong Panjaitan karena menggunakan senjata termasuk amunisi baru harus familiarisasi lebih dahulu. Amunisi baru tidak menjamin akan berfungsi baik kalau belum pernah digunakan sebelumnya.  Dan itu kenyataan, karena setelah dicoba ternyata banyak peluru yang tidak meletus, yang akhirnya pasukan tetap menggunakan amunisi lama yang sudah diketahui karakteristiknya. Setelah 2 hari berlatih, komandan pasukan yaitu Letkol Infantri Sintong Luhut Panjaitan merasa yakin dapat melakukan tugas berat ini dengan baik. Kesempatan ini sekaligus sebagai medan pembuktian bahwa latihan rutin anti teror yang selama ini dilakukan akan berhasil dan berdaya guna. 
Pada tanggal 29 Maret 1981 pukul 21.00, berangkatlah 35 anggota pasukan anti teror dari Jakarta menuju Don Muang Thailand dengan menggunakan DC 10 Garuda. Setelah menempuh 3,5 jam penerbangan, pesawat pengangkut pasukan ini mendarat di Don Muang pukul 00.30, yang kedatangannya dibuat kamuflase sebagai pesawat Garuda yang baru terbang dari Eropa. Sebenarnya pemerintah Thaliand tidak menyetujui pengiriman pasukan ini, karena lebih memilih penyelesaian pembebasan sandera melalui negosiasi dari pada secara militer. Namun akhirnya pemerintah Thailand mengijinkan rencana operasi militer karena desakan pemerintah Indonesia. Ijin operasi militer dikeluarkan oleh Perdana Menteri Thailand pada hari Minggu tanggal 30 Maret 1981 pukul 11.00, dan dengan dasar inilah LB Murdani memutuskan untuk melaksanakan operasi militer pada pukul 03.00. Guna mengisi waktu penantian, pasukan anti teror memanfaatkannya untuk latihan ulangan dengan menggunakan pesawat DC 9 Digul. Pada kesempatan tersebut Sintong Panjaitan mengajak pilot Garuda untuk menyaksikan. Ternyata ada koreksi latihan yang cukup signifikan, yaitu saat membuka pintu darurat.  Jika pintu darurat dibuka, maka akan keluar karet peluncur pendaratan darurat yang justru bisa melemparkan pasukan yang akan memasuki cabin pesawat. Akhirnya pada saat pintu darurat nanti dibuka, harus ada anggota pasukan yang menahan agar tangga darurat tidak keluar meluncur ke bawah, dan pada saat yang bersamaan anggota lain harus segera masuk ke cabin. 
Detik-detik Menegangkan.  Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, yang berarti mendekati saat dimulainya operasi militer untuk pembebasan sandera.  Hasil dari operasi tersebut sudah diketahui bersama. Operasi yang berlangsung hanya kurang dari 5 menit tersebut, telah dapat melumpuhkan pembajak dengan menembak mati 4 pembajak dan seorang berhasil ditangkap. Sedangkan seorang anggota pasukan Kopasus dan Kapten Pilot tertembak dan meninggal di rumah sakit Don Muang beberapa hari setelah pembebasan. 
Kopasus Kebanggaan Kita.  Keberhasilan pembebasan sandera oleh Pasukan Anti Teror Kopasus ini, tercata sebagai salah satu dari 5 pembebasan sandera tersukses di dunia.  Peristiwa ini hendaknya mengingatkan kita bahwa kita punya dan sampai saat ini masih terbina secara baik suatu kekuatan anti teror, meskipun dengan undang-undang TNI saat ini tugas-tugas anti teror yang termasuk dalam keamanan negara diserahkan kepada Polri yaitu Densus 88. Kasus penyerangan ke Lapas Cebongan yang menewaskan 4 tahanan sebagai tersangka preman beberapa waktu yang lalu yang ternyata dilakukan oleh oknum Kopasus, tidak pernah melunturkan pandangan masyarakat terhadap nama besar Kopasus yang telah banyak berjasa dalam menjaga integritas dan kewibawaan negara. Sebaliknya masyarakat justru sangat berharap kepada Kopasus untuk lebih berperan dalam membantu menjaga keamanan negara, disamping tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara. Bravo Kopasus !!!!!!!!!!   

Operasi Militer Pembebasan Sandera Mapenduma

HARI belum siang ketika helikopter tumpangan para juru runding Palang Merah Internasional (ICRC) mendarat perlahan di Kenyam. Ini kampung kecil di pinggir hutan Papua, 15 menit naik helikopter dari Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya, yang menjadi pusat kendali Operasi Gabungan Pembebasan Sandera Peneliti Lorents '95. Henry Fournier, Kepala Misi ICRC Jakarta, turun dari heli dengan wajah kuyu. Lo, mengapa?


HARI belum siang ketika helikopter tumpangan para juru runding Palang Merah Internasional (ICRC) mendarat perlahan di Kenyam. Ini kampung kecil di pinggir hutan Papua, 15 menit naik helikopter dari Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya, yang menjadi pusat kendali Operasi Gabungan Pembebasan Sandera Peneliti Lorents '95. Henry Fournier, Kepala Misi ICRC Jakarta, turun dari heli dengan wajah kuyu. Lo, mengapa?
Hari itu, 9 Mei 1996, pembebasan 12 sandera-lima sandera peneliti biologi Indonesia dan tujuh peneliti asing dari Inggris, Belanda, dan Jerman-buntu. Upaya pembebasan damai ICRC yang melelahkan, selama hampir empat bulan, gagal total. Pesta babi yang diminta pentolan gerombolan, Kelly Kwalik, sebagai syarat pembebasan sehari sebelumnya, diingkari oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). "Kami minta ubi harus dapat ubi, tidak mungkin minta ubi dapat ketela," demikian kata-kata kiasan Daniel Kogoya, salah satu pimpinan OPM, ketika mengakhiri negosiasi.
OPM tetap berkukuh pada tuntutannya: pemerintah RI harus mengakui kemerdekaan Negara Melanesia Barat seperti tuntutan awal mereka. Maka, segera setelah ada izin dari otoritas tertinggi Jakarta dan persetujuan wakil negara-negara yang terlibat dalam negosiasi, delapan helikopter jenis Bell 412 dan Bolco 105 milik Dinas Penerbang AD bersegera mengangkut tim pemukul dari Kopassus menuju sasaran. Tujuannya, Mapenduma. Di sana para sandera disekap.
Brigjen Prabowo Subianto-saat itu komandan pasukan Baret Merah-turut serta dalam penyerbuan itu. Namun sandera yang sudah dibawa kabur gerombolan ke tengah hutan ternyata gagal ditemukan. Operasi pencarian pun dilanjutkan kembali.
Satuan pemburu jejak yang telah menguntit gerakan gerombolan langsung di hutan selama berbulan-bulan diperintahkan mempertajam daya endusnya. Unit ini terdiri dari anggota Kopassus dan tentara asal Papua yang sudah mendapat pelatihan memburu jejak dan survival di hutan. Hasil kuntitan tim inilah yang menentukan titik koordinat keberadaan para penyandera. Kegiatan mereka dibantu pengamatan udara dengan pesawat tanpa awak RPVs (remote pilot vehicles) yang dilengkapi sistem airborne thermal infrared sensing system (ATIRSS), penjejak panas yang disewa dari Singapura.
Maka, empat hari kemudian, satu unit (sembilan orang) pemukul Kopassus berhasil menjepit gerombolan. Upaya ini berhasil menyelamatkan sembilan sandera oleh tim pencegat dari Batalion 330, namun masih ada dua sandera yang menjadi korban bacokan OPM. Sedangkan dari OPM, delapan orang tewas dalam pertempuran jarak dekat. Sedangkan dari pihak TNI tercatat lima anggotanya gugur akibat jatuhnya sebuah helikopter saat penyerbuan. Inilah akhir drama penyanderaan selama 130 hari.
Operasi pembebasan itu memang dirancang melibatkan kesatuan Marinir, Batalion 330 Kostrad, dan Batalion Organik Kodam VIII Trikora sebagai pasukan penyekat. Pasukan ini stand-by di titik-titik yang sudah di-tentukan oleh geolog Wanadri, Tedy Kardin. "Ini operasi gabungan yang melibatkan banyak kesatuan," ujar Prabowo. Menurut Prabowo, mengutip statistik dari Federal Bureau of Investigation (FBI), pembebasan sandera dengan operasi bersenjata 50 persen akan gagal. Maka, jalan damai harus diprioritaskan. Di sinilah perlu keterlibatan pihak netral, termasuk Palang Merah Internasional. Menurut Prabowo, ICRC bisa dipercaya. "Saya sempat diejek beberapa senior saat itu: disuruh membebaskan kok malah negosiasi," ujar pensiunan jenderal bintang tiga yang sekarang menjadi pengusaha minyak itu.
Selama menunggu negosiasi damai itulah Prabowo melatih anak buahnya secara spartan, mengantisipasi bila sewaktu-waktu perundingan gagal. "Opsi pembebasan jalan kekerasan harus tetap disiapkan," katanya. Materi pelatihan terutama berupa pendaratan fast trooping dan fast raffling dari helikopter. Termasuk melatih para penguntit jejak musuh. Dalam masa latihan ini, seorang perwira sempat mengalami stress dan menembak mati 11 tentara dan lima orang sipil di lapangan terbang Timika sebelum dilumpuhkan.

Kisah Heroik Prajurit Siliwangi Saat Operasi Trikora


Pembebasan Irian Barat dari Penjajah   

NUKILAN peristiwa bersejarah dari sebuah catatan seorang prajurit Siliwangi dalam Operasi Trikora ketika membebaskan Irian Barat yang kini menjadi Papua dari cengkeraman penjajah Belanda. Detail-detail pengalaman ini dicatat sebagai memori dari Peltu Abdul Kadir yang kemudian diketik dan diberi judul "Penyeberangan Pegunungan Gunofa" di Kaimana yang terjadi pada tahun 1962. Peperangan yang paling berat membebaskan Irian Barat menurut prajurit ini adalah peperangan melawan alam ketimbang melawan tentara Belanda. Kisah heroik ini merupakan kenangan prajurit Siliwangi itu yang ditujukan kepada para pejuang dan pahlawan Trikora.

Penulis kisah ini adalah H. Hamzah Ibrahim yang mendapatkan catatan sejarah ini dari Kang Ahmad, pemilik bengkel sepeda motor di Dayeuhkolot. Saat diserahkan, huruf-huruf dalam catatan tersebut sudah pudar karena dimakan waktu. Kisah ini diberikan kepada penulis sebulan sebelum ia meninggal dunia.