Jakarta sibuk menentukan nasib Propinsi Nangroe Aceh Darussalam dalam pekan-pekan terakhir. Pernyataan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) awal bulan ini yang menolak hadir dalam pertemuan joint council, membuat Jakarta panas hati. Pimpinan militer pun bersiap menggelar operasi militer besar-besaran di propinsi paling ujung barat Indonesia ini. Namun keputusan penting itu sangat tergantung laporan kondisi mutakhir di Aceh dari Mayor Jenderal Muhammad Djali Yusuf, Panglima Komando Daerah Militer Iskandar Muda, Nangroe Aceh Darussalam.
Entah apa yang dilaporkan Jenderal Djali Yusuf dalam rapat tertutup bersama Menteri Koordinasi Polkam, Selasa (15/4) lalu. Pastinya laporan itu akan menentukan nasib ribuan nyawa di Aceh. Sebab jika TNI menggelar operasi militer, kontak senjata dengan GAM sulit dihindari. Korban sipil, TNI, dan GAM bakal berjatuhan. Tentu situasi itu tidak diharapkan pria kelahiran Sigli, Aceh ini.
Jenderal penggemar golf yang selalu tampil penuh senyum ini mencatat sejumlah keberhasilan selama bertugas di Aceh. Dua tahun lalu, Djali mulai bertugas di Aceh sebagai Wakil Panglima Komando Pelaksana Operasi (Pangkolakops). Tujuh bulan kemudian tanggung jawabnya bertambah setelah diangkat sebagai Pangkolakops. Jabatan ini hanya diemban selama tiga bulan. Suami Neirawati ini kemudian menerima tugas baru sebagai Pangdam Iskandar Muda pertama, setelah Kodam ini dibekukan selama 17 tahun.
Sepanjang tugasnya di Aceh, perubahan besar terjadi. Pembicaraan yang mengarah pada perdamaian mulai dijalin antara Jakarta dan GAM. Awal tahun lalu, dalam sebuah kontak senjata, TNI menewaskan Panglima GAM, Teungku Abdullah Syafi'ie di Pidie. Kemudian November lalu, pasukan TNI dan Brimob mengepung persembunyian GAM. Pengepungan berakhir tanpa korban yang berarti di kedua pihak setelah terjadi kesepakatan perdamaian yang ditandatangani di Jenewa, Swiss.
Namun dibalik keberhasilan itu Komisi Nasional untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat sepanjang 2001, terdapat lebih dari 2.000 warga sipil tewas sebagai korban kekerasan di Aceh. Angka ini dua kali lipat dibandingkan dua tahun sebelumnya. Belum lagi tewasnya beberapa pejabat daerah dan Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Dayan Dawood. Jika Djali tetap dipertahankan di posisinya, tentu Jakarta punya pertimbangan lain. Salah satunya karena Djali sangat mengenal karakter orang Aceh. Sebab dia menghabiskan masa kecilnya di Aceh. Masa remaja putra pasangan Yusuf Seuman dan Saidah ini dikenal gemar berantem. Dalam sebuah perkelahian antar geng, dia menusuk seorang mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Hadiahnya, remaja Djali harus mendekam 15 hari di sel polisi. Beruntung korbannya tidak meninggal dan masalah ini diselesaikan secara kekeluargaan. Lulus SMA, Djali yang temperamental sempat gagal masuk Akademi Militer. Namun tahun berikutnya dia berhasil menembus seleksi.
Pengalamannya di wilayah konflik tidak diragukan lagi. Djali berhasil menyelesaikan tugasnya dalam operasi militer di Timor-Timur pada 1978, 1983, dan 1989. Usai di Timtim, dia dipercaya menjadi Kepala Seksi Operasi Korem 011/LLW Lhokseumawe, Aceh. Setelah dua tahun di Aceh, Djali menjalani tugas di berbagai daerah selama sepuluh tahun. Hari paling bersejarah dalam hidupnya terjadi Pada 5 Februari 2002. Bang Djali - begitu dia biasa dipanggil orang Aceh- menerima tugas sebagai Pangdam di propinsi kelahirannya, Aceh.
Perjalanan hidup ayah empat orang anak ini akan terus mewarnai sejarah Tanah Rencong. Usai bertemu Menko Polkam, Selasa lalu, Djali menyebut kebutuhannya menambah personil TNI di wilayahnya. Jika operasi militer jadi dilaksanakan, maka Markas Besar TNI harus melipat gandakan jumlah pasukannya dari sekitar 26.000 orang saat ini. Namun semua itu tergantung laporan Jenderal Djali Yusuf ke Jakarta.
(A Rulianto - Tempo News Room)
Senin, 13 Januari 2014
Pembawa Pesan Dari Tanah Rencong
14.07
No comments






0 komentar:
Posting Komentar