About

Minggu, 12 Januari 2014

Operasi Dwikora - Bentrok Dengan Serdadu Inggris

Ketika Dwikora berkobar. Pasukan Yonif Linud 328 kembali di terjunkan untuk mempertahankan wilayah perbatasan, menyusup dan sekaligus bertempur di wilayah Malaysia (Kalimantan Timur).

Setelah menjalani latihan dan perbekalan, personil Yonif Linud 328 dikirim menuju perbatasan melalui jalan darat maupun penerjunan dari udara. Operasi ini berlangsung tanggal 4 Oktober 1963 sampai 1 Januri 1964.

Operasi tempur untuk menembus perbatasan antara Kalimantan Selatan (RI) dan Kalimantan Utara (Malaysia) yang merupakan operasi yang sangat berat. Dalam Operasi ini bersifat menyusup, kemudian menyerang lalu mengundurkan diri. Resiko yang dihadapi sangat besar. Pasukan yang menyusup hanya berbekal peta yang terbatas, sehingga sulit dipastikan apakah sudah memasuki daerah lawan. Bila pasukan sudah bisa memastikan posisi musuh baru serangan dapat segera dilancarkan. Namun bila aksi penyusupan pasukan RI telah diketahui musuh, maka yang terjadi penyergapan. Menyerang dahulu atau memilih mundur karena sergapan musuh merupakan taktik standar yang diterapkan dalam pertempuran melawan pasukan Malaysia di perbatasan.

Pertempuran pertama ketika tim dari Yonif Linud 328 berhasil menyusup ke wilayah Kalimantan Utara dan menemukan pos komando Inggris di wilayah Munti. Dalam operasi serbuan dadakan pada malam hari, serdadu Inggris dan Gurkha yang tengah lengah di hujani tembakan terarah dari pasukan Yonif Linud 328 yang terdiri dari dua peleton. Serangan dadakan itu menimbulkan kerugian besar bagi serdadu Inggris dan menunjukan keunggulan pasukan Indonesia. Kemudian pasukan secara teratur mundur ke wilayah yang aman.

Selain berperan sebagai pasukan penyerang, pasukan Yonif Linud 328 pun sempat menjadi sasaran pasukan Malaysia. Dan biasanya serangan tersebut didukung serdadu Inggris yang melibatkan senjata berat dan pesawat tempur. Oleh karena itu pasukan Yonif Linud 328 memilih mundur sambil memberikan perlawanan teratur.

Pertempuran lain adalah ketika pasukan Linud 328 dan tentara Malaysia yang berlangsung di Kampung Pareh menimbulkan korban sebanyak 25 pasukan musuh tewas. Pasukan Linud 328 sebanyak 40 orang dan dipimpin oleh Serma M Darto, saat itu sedang bertugas mengurus logistik. Tiba-tiba anggota pasukan Yonif Linud 328 menemukan kampung yang mencurigakan dan diyakini sebagai basis musuh. kemudian di siapkan penyerangan ke kampung tersebut. Untuk menghadapi pasukan Malaysia, tim dipercayakan di pimpin oleh Serda F Akri. Setelah pertempuran sengit selama kurang lebih dua jam, pasukan Malaysia berhasil dihancurkan, lebih dari 25 orang tewas. Sedangkan dari pasukan Yonif Linud 328 sebanyak dua anggotanya gugur.

Pertempuran ini membuktikan perjuangan pasukan Yonif Linud 328 yang turut serta pada masa Dwikora dan membuahkan hasil yang menjadi sejarah tersendiri buat anggota maupun satuannya.

- sumber edisi koleksi Angkasa -

PEMBEBASAN SANDERA PEMBAJAKAN DC -9 GA 206/ WOYLA DI DON MUANG THAILAND


 
Telah lama bangsa ini miskin prestasi dan rindu pada kebanggaan. Selama era reformasi kita hanya disibukkan dengan kegiatan pembenahan kehidupan berbangsa, yang hasilnya kadang menciptakan ketidakstabilan terhadap kemapanan berbangsa.  Pembenahan yang diharapkan bisa menciptakan keberaturan justru malah sering menciptakan kondisi yang carut marut. Sebagai obat rasa rindu tersebut, marilah kita mengingat prestasi bangsa yang ditorehkan 32 tahun yang lalu oleh putra-putra terbaik bangsa.
Peristiwa Woyla.  Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Maret 1981, ketika pesawat Garuda DC9 dengan nomor penerbangan GA 206 dengan 48 penumpang tinggal landas dari bandara Talangbetutu Palembang menuju Polonia Medan, dibajak oleh 5 orang bersenjata yang menamakan diri sebagai anggota "Komando Jihad". Kapten pilot Herman Rante dipaksa untuk mengalihkan tujuan ke Kolombo Srilanka, namun karena bahan bakar tidak mencukupi akhirnya dialihkan mendarat di Penang Malaysia. Pesawat yang dijadwalkan tiba di Medan pukul 10.35 tersebut, baru diketahui dibajak pada pukul 10.18 saat Kapten Pilot Fokker 28 Garuda yang baru tinggal landas dari Pakan Baru menangkap komunikasi pilot GA 206 yang mengatakan bahwa pesawatnya sedang dibajak (being hijacked).  Berita tersebut langsung diteruskan ke Jakarta dan diterima oleh Wakil Panglima ABRI Sudomo, yang selanjutnya Sudomo meneruskan ke Kepala Pusat Intelijen Strategis Benny Murdani. Pada saat itu Benny Murdani langsung menghubungi Asrama Kopasandha (sekarang Kopasus) yang diterima oleh Asisten Operasi Kopasandha Letkol Sintong Panjaitan. Intinya Benny Murdani memerintahkan Asop Kopasandha untuk mempersiapkan pasukan. Pada saat itu data-data tentang pembajak belum diketahui sama sekali baik jumlah, persenjataan, tujuan, ataupun tuntutannya.
Selesai mengisi bahan bakar, pesawat GA 206 menuju ke Thailand dan mendarat di bandara Don Muang.  Berdasarkan komunikasi antara pembajak dan Kepala Bakin Jenderal Yoga Sugomo, bahwa pembajak yang menamakan diri sebagai Komando Jihad menuntut dibebaskannya tahanan Peristiwa Cicendo, komplotan Warman dan Komando Jihad. Disamping itu para pembajak juga meminta diterbangkan ke suatu tempat di luar Indonesia dan uang tebusan 1,5 juta dollar AS.  Jika tuntutan mereka tidak dipenuhi, mereka mengancam akan meledakkan pesawat Woyla dengan semua penumpangnya.      

Upaya Pembebasan Sandera. Upaya pembebasan sandera diawali dengan pembentukan pasukan Kopashanda berikut dengan sebuah pesawat DC 9 Garuda yang akan digunakan sebagai sarana latihan.  Dalam masa latihan tersebut terselib kejadian yang di luar skenario. Misalnya Letjen Benny Murdani menghendaki pasukan menggunakan amunisi baru, tapi ditolak oleh Sintong Panjaitan karena menggunakan senjata termasuk amunisi baru harus familiarisasi lebih dahulu. Amunisi baru tidak menjamin akan berfungsi baik kalau belum pernah digunakan sebelumnya.  Dan itu kenyataan, karena setelah dicoba ternyata banyak peluru yang tidak meletus, yang akhirnya pasukan tetap menggunakan amunisi lama yang sudah diketahui karakteristiknya. Setelah 2 hari berlatih, komandan pasukan yaitu Letkol Infantri Sintong Luhut Panjaitan merasa yakin dapat melakukan tugas berat ini dengan baik. Kesempatan ini sekaligus sebagai medan pembuktian bahwa latihan rutin anti teror yang selama ini dilakukan akan berhasil dan berdaya guna. 
Pada tanggal 29 Maret 1981 pukul 21.00, berangkatlah 35 anggota pasukan anti teror dari Jakarta menuju Don Muang Thailand dengan menggunakan DC 10 Garuda. Setelah menempuh 3,5 jam penerbangan, pesawat pengangkut pasukan ini mendarat di Don Muang pukul 00.30, yang kedatangannya dibuat kamuflase sebagai pesawat Garuda yang baru terbang dari Eropa. Sebenarnya pemerintah Thaliand tidak menyetujui pengiriman pasukan ini, karena lebih memilih penyelesaian pembebasan sandera melalui negosiasi dari pada secara militer. Namun akhirnya pemerintah Thailand mengijinkan rencana operasi militer karena desakan pemerintah Indonesia. Ijin operasi militer dikeluarkan oleh Perdana Menteri Thailand pada hari Minggu tanggal 30 Maret 1981 pukul 11.00, dan dengan dasar inilah LB Murdani memutuskan untuk melaksanakan operasi militer pada pukul 03.00. Guna mengisi waktu penantian, pasukan anti teror memanfaatkannya untuk latihan ulangan dengan menggunakan pesawat DC 9 Digul. Pada kesempatan tersebut Sintong Panjaitan mengajak pilot Garuda untuk menyaksikan. Ternyata ada koreksi latihan yang cukup signifikan, yaitu saat membuka pintu darurat.  Jika pintu darurat dibuka, maka akan keluar karet peluncur pendaratan darurat yang justru bisa melemparkan pasukan yang akan memasuki cabin pesawat. Akhirnya pada saat pintu darurat nanti dibuka, harus ada anggota pasukan yang menahan agar tangga darurat tidak keluar meluncur ke bawah, dan pada saat yang bersamaan anggota lain harus segera masuk ke cabin. 
Detik-detik Menegangkan.  Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari, yang berarti mendekati saat dimulainya operasi militer untuk pembebasan sandera.  Hasil dari operasi tersebut sudah diketahui bersama. Operasi yang berlangsung hanya kurang dari 5 menit tersebut, telah dapat melumpuhkan pembajak dengan menembak mati 4 pembajak dan seorang berhasil ditangkap. Sedangkan seorang anggota pasukan Kopasus dan Kapten Pilot tertembak dan meninggal di rumah sakit Don Muang beberapa hari setelah pembebasan. 
Kopasus Kebanggaan Kita.  Keberhasilan pembebasan sandera oleh Pasukan Anti Teror Kopasus ini, tercata sebagai salah satu dari 5 pembebasan sandera tersukses di dunia.  Peristiwa ini hendaknya mengingatkan kita bahwa kita punya dan sampai saat ini masih terbina secara baik suatu kekuatan anti teror, meskipun dengan undang-undang TNI saat ini tugas-tugas anti teror yang termasuk dalam keamanan negara diserahkan kepada Polri yaitu Densus 88. Kasus penyerangan ke Lapas Cebongan yang menewaskan 4 tahanan sebagai tersangka preman beberapa waktu yang lalu yang ternyata dilakukan oleh oknum Kopasus, tidak pernah melunturkan pandangan masyarakat terhadap nama besar Kopasus yang telah banyak berjasa dalam menjaga integritas dan kewibawaan negara. Sebaliknya masyarakat justru sangat berharap kepada Kopasus untuk lebih berperan dalam membantu menjaga keamanan negara, disamping tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara. Bravo Kopasus !!!!!!!!!!   

Operasi Militer Pembebasan Sandera Mapenduma

HARI belum siang ketika helikopter tumpangan para juru runding Palang Merah Internasional (ICRC) mendarat perlahan di Kenyam. Ini kampung kecil di pinggir hutan Papua, 15 menit naik helikopter dari Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya, yang menjadi pusat kendali Operasi Gabungan Pembebasan Sandera Peneliti Lorents '95. Henry Fournier, Kepala Misi ICRC Jakarta, turun dari heli dengan wajah kuyu. Lo, mengapa?


HARI belum siang ketika helikopter tumpangan para juru runding Palang Merah Internasional (ICRC) mendarat perlahan di Kenyam. Ini kampung kecil di pinggir hutan Papua, 15 menit naik helikopter dari Mapenduma, Kecamatan Tiom, Jayawijaya, yang menjadi pusat kendali Operasi Gabungan Pembebasan Sandera Peneliti Lorents '95. Henry Fournier, Kepala Misi ICRC Jakarta, turun dari heli dengan wajah kuyu. Lo, mengapa?
Hari itu, 9 Mei 1996, pembebasan 12 sandera-lima sandera peneliti biologi Indonesia dan tujuh peneliti asing dari Inggris, Belanda, dan Jerman-buntu. Upaya pembebasan damai ICRC yang melelahkan, selama hampir empat bulan, gagal total. Pesta babi yang diminta pentolan gerombolan, Kelly Kwalik, sebagai syarat pembebasan sehari sebelumnya, diingkari oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM). "Kami minta ubi harus dapat ubi, tidak mungkin minta ubi dapat ketela," demikian kata-kata kiasan Daniel Kogoya, salah satu pimpinan OPM, ketika mengakhiri negosiasi.
OPM tetap berkukuh pada tuntutannya: pemerintah RI harus mengakui kemerdekaan Negara Melanesia Barat seperti tuntutan awal mereka. Maka, segera setelah ada izin dari otoritas tertinggi Jakarta dan persetujuan wakil negara-negara yang terlibat dalam negosiasi, delapan helikopter jenis Bell 412 dan Bolco 105 milik Dinas Penerbang AD bersegera mengangkut tim pemukul dari Kopassus menuju sasaran. Tujuannya, Mapenduma. Di sana para sandera disekap.
Brigjen Prabowo Subianto-saat itu komandan pasukan Baret Merah-turut serta dalam penyerbuan itu. Namun sandera yang sudah dibawa kabur gerombolan ke tengah hutan ternyata gagal ditemukan. Operasi pencarian pun dilanjutkan kembali.
Satuan pemburu jejak yang telah menguntit gerakan gerombolan langsung di hutan selama berbulan-bulan diperintahkan mempertajam daya endusnya. Unit ini terdiri dari anggota Kopassus dan tentara asal Papua yang sudah mendapat pelatihan memburu jejak dan survival di hutan. Hasil kuntitan tim inilah yang menentukan titik koordinat keberadaan para penyandera. Kegiatan mereka dibantu pengamatan udara dengan pesawat tanpa awak RPVs (remote pilot vehicles) yang dilengkapi sistem airborne thermal infrared sensing system (ATIRSS), penjejak panas yang disewa dari Singapura.
Maka, empat hari kemudian, satu unit (sembilan orang) pemukul Kopassus berhasil menjepit gerombolan. Upaya ini berhasil menyelamatkan sembilan sandera oleh tim pencegat dari Batalion 330, namun masih ada dua sandera yang menjadi korban bacokan OPM. Sedangkan dari OPM, delapan orang tewas dalam pertempuran jarak dekat. Sedangkan dari pihak TNI tercatat lima anggotanya gugur akibat jatuhnya sebuah helikopter saat penyerbuan. Inilah akhir drama penyanderaan selama 130 hari.
Operasi pembebasan itu memang dirancang melibatkan kesatuan Marinir, Batalion 330 Kostrad, dan Batalion Organik Kodam VIII Trikora sebagai pasukan penyekat. Pasukan ini stand-by di titik-titik yang sudah di-tentukan oleh geolog Wanadri, Tedy Kardin. "Ini operasi gabungan yang melibatkan banyak kesatuan," ujar Prabowo. Menurut Prabowo, mengutip statistik dari Federal Bureau of Investigation (FBI), pembebasan sandera dengan operasi bersenjata 50 persen akan gagal. Maka, jalan damai harus diprioritaskan. Di sinilah perlu keterlibatan pihak netral, termasuk Palang Merah Internasional. Menurut Prabowo, ICRC bisa dipercaya. "Saya sempat diejek beberapa senior saat itu: disuruh membebaskan kok malah negosiasi," ujar pensiunan jenderal bintang tiga yang sekarang menjadi pengusaha minyak itu.
Selama menunggu negosiasi damai itulah Prabowo melatih anak buahnya secara spartan, mengantisipasi bila sewaktu-waktu perundingan gagal. "Opsi pembebasan jalan kekerasan harus tetap disiapkan," katanya. Materi pelatihan terutama berupa pendaratan fast trooping dan fast raffling dari helikopter. Termasuk melatih para penguntit jejak musuh. Dalam masa latihan ini, seorang perwira sempat mengalami stress dan menembak mati 11 tentara dan lima orang sipil di lapangan terbang Timika sebelum dilumpuhkan.

Kisah Heroik Prajurit Siliwangi Saat Operasi Trikora


Pembebasan Irian Barat dari Penjajah   

NUKILAN peristiwa bersejarah dari sebuah catatan seorang prajurit Siliwangi dalam Operasi Trikora ketika membebaskan Irian Barat yang kini menjadi Papua dari cengkeraman penjajah Belanda. Detail-detail pengalaman ini dicatat sebagai memori dari Peltu Abdul Kadir yang kemudian diketik dan diberi judul "Penyeberangan Pegunungan Gunofa" di Kaimana yang terjadi pada tahun 1962. Peperangan yang paling berat membebaskan Irian Barat menurut prajurit ini adalah peperangan melawan alam ketimbang melawan tentara Belanda. Kisah heroik ini merupakan kenangan prajurit Siliwangi itu yang ditujukan kepada para pejuang dan pahlawan Trikora.

Penulis kisah ini adalah H. Hamzah Ibrahim yang mendapatkan catatan sejarah ini dari Kang Ahmad, pemilik bengkel sepeda motor di Dayeuhkolot. Saat diserahkan, huruf-huruf dalam catatan tersebut sudah pudar karena dimakan waktu. Kisah ini diberikan kepada penulis sebulan sebelum ia meninggal dunia.

Sabtu, 11 Januari 2014

LEGENDA TARUNA MERAH "AKMIL"



tadi siang saya iseng-iseng buka Link "Taruna Merah" ketemu Forum diskusi KASKUS berjudul "Legenda Taruna Merah di Akmil" ... sebelumnya bagi orang-orang mungkin masih asing di dengar.. saya juga seperti itu, karena teman saya cerita seperti ini, saya penasaran apa Iya, memang ada cerita Nyata seperti Ini, OK! saya jelaskan..

"Taruna Merah" itu sebenarnya adalah tentang Hantu si Moh. Socheh dia Taruna jaman dulu masih AMN. Dia meninggal ketika mengikuti ujian dopper. Kepala nya tertembus peluru dan helm nya pecah. Katanya ( katanya lho ... ) dia kaget ketika sedang merayap dan gergulir tiba tiba di depan mukanya muncul seekor ular hendak mematuk dia. Dia menghindar dengan mendoongak kan kepalanya. Saat itu juga sebuah peluru pelatih menembus helm baja dan kepalanya. Ia gugur seketika. dan kepalanya berlumuran darah memerah memenuhi wajahnya. Sejak kejadian itu, ia sering menampakkan diri pada Taruna atau Capratar dengan model/kondisi seperti saat ia meninggal. Dengan wajah yang berdarah darah memerah. Maka dari itu ia disebut Taruna Merah krn wajahnya berlumuran darah yg warnanya merah tentunya. *

Pengalaman Serem gw sendiri di Akmil :
- Denger suara macan di Bangsal 2 Kotakta B samping tempat tidur gw yg di kasur atas, langsung berhadapan dengan jendela tanpa gorden n kalo nglilir, gw selalu langsung ngeliat pinggiran hutan di kaki Puncak Tidar
Sereeeemmm
- Malem berikutnya rame rame kejadian kesurupan berjamaah ... gw sendiri hampir kena, tapi tu JIN gw hajar, trus lari ke temen gw sambil ngoceh ga karuan nantangin gw duel ... hehehe

- Malem berikutnya jam 4.30 pagi gw liat cewek pake baju putih putih terbang melayang di koridor Bangsal 2 Kotakta B. GLEK !!! ini gw seumur hidup liat setan ....
Tapi ga seserem yang kesurupan berjamaah
Besok paginya ada temen yang ketakutan abis dicekik sama perempuan tinggi besar model gendruwo di Kotakta C.

Trus gw kemasukan Jin Akmil sampe sekarang gara gara makan ga pernah berdoa dan suka kosong pikiran.
Jin itu masuk ke tubuh gw bersama makanan dan pikiran yang kosong.
..

------------------------------------------------------------------------

Cerita serem versi Almarhum Bang Arif :

- Dia pas masih jadi Capratar or ( Catar ? ), taun 1986, jam 8.30 abis apel malem, anak anak pada belum tidur masi ngobrol, lampu bangsal masi menyala terang, masi ada yang baru sholat isya, ada yang asik sendiri, tiba tiba ada sepatu jalan pletak pletuk di depan mereka dengan pede nya melintas di dalam bangsal jalan ke pintu keluar bangsal... yang di dalem ruangan kontan pada ketakutan ngibrit ke ruangan lain dibangsal yang sama ....

Cerita gw yang lain :

- gw mau sholat tahajjud jam 1.30 ke kamar mandi/WC Kotakta B, berlima ... krn pada ga brani gara gara beberapa kejadian aneh malam malam sebelumnya. Temen temen dah pada kencing dan wudhu ... gw yg belakangan agak kalah cepet, dan ketinggalan beberapa meter di belakang. Tiba tiba, disamping gw di dalem WC gw denger suara orang merintih kesakitan "aduuuh ... aduh ... tolong... " gw berhenti, suara itu makin keras ... gw hampir aja buka tu pintuk kamar WC ... tapi gw teringat cerita Bang Arif pernah ada kejadian serupa gw di tempat yang sama, ada Capratar yg ngebuka pintu pas ada suara begitu, ternyata yang mengaduh adalah si Taruna Merah dengan muka berdarah darah ... Akhirnya gw ga jadi buka tu pintu ... langsung ngibrit nyusul temen temen ... trus gw tanyain temen temen ternyata ga ada yang denger tu suara .... Hiks, ternyata gw malem itu yang lagi diincer heheheeee

hmmm.. pokoknya ceritanya gitu deh, temen saya tau cerita ini dari pacar kakak.a yg kebetulan Akmil juga..
temen saya sempet cerita juga pernah ada versi katanya waktu itu ada 2 pasangan saling mencintai cowonya itu pendidikan di Akmil.. nah waktu itu cowonya sedang menjalani Olahraga.. cewenya nungguin di tempat duduk gitu, cowonya bilang, "kamu, pulang aja, dari pada di marahin sama Komandan aku" .. nah si cewenya ini ngga mau, tetep dia mau nungguin cowonya sampai selesai... Bodohnya si cowo ini, cewenya terpaksa ngumpet di dalam Lemari katanya "udah kamu ngumpet aja disini sementara"... setelah cowonya selesai olahraga, cowonya Lupa kalau di lemari itu ada pacarnya.. setelah 3 hari kemudian, cowonya baru Inget kalau di lemari tsb ada si Pacarnya, tersentak Kaget.. *bayangin di lemari sempit, gg ada udara,*... akhirnya si cewe ini meninggal .. Katanya Ruhnya masih gentayangan sampe sekarang ....

trus katanya temen saya, di Akmil kalau sedang Ujian tepatnya lagi tidur setiap Malam jummat di samping ketemu sama cewe berbaju Putih di sebelahnya, katanya besok dia bakal Lulus, dan benar dia Lulus ujian kalau selama Uian di Akmil ngga pernah ketemu si cewe itu.. katanya gg bakal Lulus.. (*saya ngga tau pasti siapa cewe itu*) yang pasti itu kejadian yg pernah di alami sama Akmil dsb ...

saya juga sekolah deket rumah TNI AU.. ngga hanya Akmil aja lho yg punya cerita Misteri ... AAL, AAU, AAD, Kopassus, Milliter, AKABRI, dsb.. pasti juga akan mengalami kejadian itu, pasti yg paling sering si Taruna Merah ini.. 

KISAH PRAJURIT SUPARLAN YANG BERTEMPUR SENDIRI DENGAN GAGAH BERANI


DIRGANTARA


Inilah Kisah pertempuran seorang Prajurit yang siapa saja membacanya akan mengangkat Topi, sebuah pengorbanan yang luar biasa, kepada Korps, Negara dan Harga diri

Dia adalah Pratu Suparlan, Prajurit Kopasandha yang bertempur sendiri sampai gugur. orang boleh bercerita tentang hebaptkan Pasukan Gurkha dengan dibumbu bumbui seolah olah mereka adalah yang terhebat dan heroik dengan Pisau Kukriknya, Tapi Suparlan hanya bertarung hingga gugur dengan Pisau Komando ditangannya...

Suparlan adalah prajurit Kopassus yang gugur tahun 1980. Prajurit hebat ini mengorbankan dirinya sendiri demi menyelamatkan regu Kopassus dan Kostrad dari pembantaian Fretilin.

1 Unit gabungan berjumlah 9 orang (4 pers Kopassus dan 5 Personel Kostrad ) di pimpin oleh Letnan Poniman Dasuki (terakhir berpangkat Brigjen) speed 2 adalah Prada Tamsil (pangkat terakhir Peltu sudah Purnawirawan) melaksanakan Patroli di Zona Z Pedalam Timor daerah ini adalah daerah yang sangat Rawan, Masih ada tokoh tokoh seperti Lobato, Lere, David, Xanana belum muncul. saat melaksanakan Patroli tersebut mereka bertemu dengan Markas Fretelin dengan kekuatan -+ 300 orang memiliki senjata yang sangat lengkap (Senapan Serbu, Mortir dan GLM). Pasukan Fretelin ini adalah sayap militer terlatih Timor Timur yg berpengalaman perang di angola, mozambik, dll. dan dilatih oleh Pasukan Tropaz Portugal.

Sejarah Lepasnya Timor Timur Yang tak Pernah Terungkap (BENAR-BENAR MENYAYAT HATI-MENETES AIR MATA INI)


26 Desember 2013 pukul 9:10
MENIT-MENIT LEPASNYA TIMOR-TIMUR DARI INDONESIA

Berikut ini adalah tulisan seorang wartawan yang meliput jajak pendapat di Dili, Timor-timur. Tulisan berikut ini sungguh luar biasa, namun sekaligus membuat dada sesak.
Ditulis oleh Kafil Yamin, wartawan kantor berita The IPS Asia-Pacific, Bangkok, yang dikirim ke Timor Timur pada tanggal 28 Agustus 1999 untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999. Judul asli dari tulisan ini adalah Menit-Menit yang Luput dari Catatan Sejarah Indonesia. Saya sengaja ubah judulnya dengan maksud agar lebih jelas mengenai apa yang terkandung dalam tulisan tersebut. 

MENIT-MENIT YANG LUPUT DARI CATATAN SEJARAH INDONESIA


Oleh: Kafil Yamin
Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.
Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk